Oleh: Prof. Dr. Ir. Rahmadi Tambaru, M.Si
Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin/Pemerhati Pemuda dan Lingkungan
Setiap 28 Oktober, kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar: Sumpah Pemuda. Hari ketika anak-anak muda dari berbagai penjuru nusantara memutuskan untuk bersatu. Mereka tidak punya jabatan, tak punya kekuasaan, tapi punya mimpi besar, mimpi tentang Indonesia yang merdeka, tentang bangsa yang satu.
Kalimat “satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa” mungkin terdengar sederhana. Namun di tahun 1928, ucapan itu adalah keberanian. Ia lahir dari keyakinan bahwa masa depan tidak bisa dibangun di atas perpecahan. Dan di hari ini, sembilan puluh tujuh tahun kemudian, semangat itu tetap layak untuk dihidupkan, termasuk dari pemuda Sulawesi Barat, yang hidup di tengah perubahan besar dunia modern.
Dulu Melawan Penjajah, Sekarang Melawan Perpecahan
Dulu, musuh pemuda Indonesia jelas: penjajahan. Kini, musuhnya berubah bentuk, tidak lagi berseragam dan bersenjata, tapi hadir dalam wujud perpecahan, kebencian, dan ketidakpedulian. Di Sulawesi Barat, hidup dalam keberagaman. Ada Mandar, Makassar, Bugis, Toraja, Jawa, dan banyak lagi suku lainnya. Semua membawa warna dan cerita sendiri. Tapi keberagaman itu hanya akan menjadi kekuatan bila mau saling memahami.
Sumpah Pemuda dulu menembus sekat suku dan bahasa, dan di hari ini, semangat itu harus diteruskan, menyatukan yang berbeda tanpa menghapus jati diri. Pemuda Sulawesi Barat perlu menjadi penenun tali persaudaraan, bukan pemutus simpul. Di dunia nyata, di dunia maya, di kampus, di desa, di mana pun berada, persatuan tetap harus dijaga.
Nilai yang Tak Pernah Usang
Sumpah Pemuda lahir dari keberanian. Para pemuda kala itu berani bermimpi besar di tengah tekanan penjajah. Mereka yakin, Indonesia bisa berdiri tegak karena persatuan dan tekad. Semangat seperti itu tidak boleh hilang. Kita masih melihatnya hari ini pada anak-anak muda yang berjuang diam-diam.
Ada nelayan muda di Majene yang menjaga laut agar tetap lestari. Ada penggerak komunitas di Mamuju yang menanam pohon di lahan kritis. Ada mahasiswa yang menciptakan teknologi sederhana untuk membantu petani di Polewali. Mereka tidak berteriak lantang, tapi bekerja nyata. Mereka membuktikan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti di buku sejarah.
Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda Kembali
Bagaimana semangat Sumpah Pemuda bisa dihidupkan kembali hari ini? Jawabannya sederhana: mulai dari hal kecil, tapi dilakukan dengan niat besar. Pertama, pemuda harus melek literasi digital. Di era banjir informasi, kemampuan membedakan fakta dan kebohongan menjadi penting. Kita perlu menjadi generasi yang jernih pikirannya, bukan mudah terbakar emosi oleh berita palsu.
Kedua, cintai alam dan lingkungan. Sulawesi Barat punya laut yang indah, gunung yang megah, dan hutan yang masih hijau. Tapi semua itu bisa hilang kalau kita abai. Menanam pohon, mengurangi sampah plastik, menjaga Sungai, itu juga bentuk cinta tanah air.
Ketiga, jagalah bahasa Indonesia dengan bangga. Bahasa ini yang membuat kita bisa bicara sebagai satu bangsa. Gunakan dengan baik, tapi jangan lupakan bahasa daerah. Bahasa daerah adalah akar, bahasa Indonesia adalah batang yang menghubungkan kita semua.
Dan terakhir, pemuda harus berani menjadi penghubung masa lalu dan masa depan. Belajarlah dari kearifan nenek moyang, tapi jangan takut berinovasi. Dari perpaduan itulah lahir masa depan yang berakar kuat dan tumbuh tinggi.
Semangat dari Tanah Muda
Sulawesi Barat adalah provinsi muda. Usianya belum panjang, tapi semangat warganya besar, setahu saya. Di berbagai tempat, kita melihat anak-anak muda bergerak tanpa banyak bicara: membangun perpustakaan kecil, membuat pelatihan keterampilan, mengembangkan usaha kreatif, dan peduli pada lingkungan. Mereka tidak menunggu pemerintah, mereka bergerak karena peduli. Itulah wajah baru Sumpah Pemuda, bukan lagi dalam bentuk rapat dan ikrar, tapi dalam tindakan sederhana yang berdampak nyata. Anak muda Sulawesi Barat punya potensi besar untuk menjadi motor perubahan, selama diberi ruang, kepercayaan, dan dukungan.
Api yang Tak Boleh Padam
Refleksi Sumpah Pemuda sejatinya adalah ajakan untuk menyalakan kembali api persatuan. Api itu pernah membakar semangat melawan penjajahan. Sekarang, ia harus dijaga agar tidak padam oleh ego dan perpecahan. Tidak bisa membangun masa depan jika sibuk saling curiga. Tidak bisa menumbuhkan harapan jika kehilangan rasa percaya satu sama lain. Pemuda perlu percaya bahwa Indonesia adalah rumah bersama.
Menjaga rumah berarti merawat kebersamaan. Sebagaimana pemuda 1928 mengikrarkan satu bangsa Indonesia, maka pemuda Sulawesi Barat hari ini bisa memperbarui sumpah itu dalam bentuk baru: “Satu niat menjaga persaudaraan, satu semangat membangun daerah dengan kerja dan ilmu, satu hati menjaga bumi dan laut untuk masa depan Indonesia.”
Dari Mandar untuk Indonesia
Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan sejarah. Ia adalah cermin yang menuntun kita untuk bertanya: apakah kita masih setia pada janji persatuan itu? Bagi pemuda Sulawesi Barat, semangat itu berarti bekerja dari tanah sendiri untuk Indonesia.
Dari pesisir Mandar yang tenang, dari pegunungan Mamasa yang hijau, dari kampus dan desa, setiap langkah kecil punya arti besar bila dilakukan bersama. Indonesia tidak dibangun oleh satu generasi di kota besar, tapi oleh ribuan tangan muda di seluruh pelosok negeri. Sumpah Pemuda akan terus hidup, selama ada anak muda yang mau berbuat, bukan hanya berkata.











