Makassar — Dinamika internal Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kembali menjadi sorotan setelah munculnya kritik tajam terkait stagnasi kepengurusan di tingkat Eksekutif Nasional.
Reinal Mesakaraeng, salah satu kader yang aktif mengamati perkembangan organisasi, menilai bahwa LMND tengah menghadapi persoalan mendasar dalam proses kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan.
Menurut Reinal, absennya reshuffle dalam struktur pengurus nasional selama beberapa tahun terakhir menimbulkan tanda tanya mengenai komitmen LMND terhadap prinsip pembaruan organisasi.
Ia menegaskan, tradisi rotasi kepemimpinan sejatinya merupakan mekanisme vital untuk menjaga energi organisasi tetap segar, membuka ruang regenerasi, serta menghindari konsentrasi kekuasaan pada figur tertentu.
“Dalam organisasi progresif, reshuffle bukan sekadar formalitas. Ia adalah pintu bagi lahirnya perspektif baru dan tumbuhnya potensi kader di berbagai daerah,” ujarnya.
Reinal juga menyoroti kepemimpinan Bung Dion di tingkat nasional yang dinilai kurang memberi ruang bagi kader potensial untuk tampil dan mengambil peran strategis.
Padahal, momentum Kongres LMND di Surabaya disebut menghadirkan banyak kader berkapasitas yang layak melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Namun, kesempatan tersebut dinilai tidak dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi ini, kata Reinal, menciptakan kesan bahwa LMND kehilangan fungsi utamanya sebagai “sekolah kader” yang melahirkan pemimpin progresif.
Alih-alih menjadi ruang pembelajaran politik dan ideologis, struktur nasional justru seolah menganggap tidak ada kader yang cukup kompeten untuk menggantikan posisi yang ada.
“Ini berbahaya bagi nilai-nilai dasar LMND: emansipasi, demokrasi internal, dan pertumbuhan kolektif,” tambahnya.
Reinal memperingatkan bahwa stagnasi berkepanjangan berpotensi menggerus kredibilitas organisasi dan melemahkan kepercayaan kader di akar rumput.
Siklus regenerasi yang sehat, katanya, adalah syarat mutlak bagi keberlangsungan organisasi mahasiswa.
Ia menutup kritiknya dengan ajakan reflektif: bahwa evaluasi terhadap pengurus nasional bukan untuk menyalahkan individu, melainkan untuk mengingatkan bahwa LMND perlu kembali pada nilai-nilai pembebasan dan regenerasi kepemimpinan.
“Sudah saatnya LMND membuka ruang lebih besar bagi kader muda untuk memegang tongkat kepemimpinan.
Ini penting untuk menjaga marwah organisasi sebagai rumah perjuangan dan lembaga pendidikan kader,” tegasnya.(rls/)














