MAJENE – Stigma dan diskriminasi masih menjadi hambatan terbesar dalam upaya penanggulangan penyakit kusta di Indonesia. Padahal, secara medis, kusta merupakan penyakit menular yang dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini dan diobati secara teratur sesuai standar pelayanan kesehatan.
Pemahaman yang keliru di tengah masyarakat kerap membuat penderita memilih diam dan menutup diri. Banyak pasien baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika penyakit telah berada pada tahap lanjut, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kecacatan permanen, baik secara fisik maupun psikologis.
Padahal, deteksi dini dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan menjadi kunci utama untuk menghentikan penularan, mencegah kecacatan, serta mempercepat proses kesembuhan. Saat ini, pengobatan kusta telah tersedia secara gratis dan terbukti efektif apabila dijalani hingga tuntas.
Ketakutan terhadap penilaian sosial, pengucilan, hingga perlakuan diskriminatif sering kali menjadi alasan utama penderita enggan memeriksakan diri sejak awal. Akibatnya, penanganan menjadi terlambat dan berdampak lebih luas, tidak hanya bagi pasien, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia 2026, RSUD Kabupaten Majene mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menghapus stigma terhadap penderita kusta. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa kusta bukanlah penyakit kutukan atau aib, melainkan penyakit yang dapat disembuhkan dengan penanganan medis yang tepat.
RSUD Majene menekankan pentingnya dukungan moral dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas agar penderita berani memeriksakan diri serta menjalani pengobatan hingga selesai tanpa rasa takut dan tekanan sosial.
Sebagai rumah sakit rujukan di Kabupaten Majene, RSUD Majene menyatakan komitmennya dalam mendukung program nasional eliminasi kusta melalui penyediaan layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Selain pelayanan medis, RSUD Majene juga secara aktif melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat guna meluruskan berbagai mitos dan informasi keliru yang selama ini berkembang terkait penyakit kusta.
Melalui edukasi tersebut, diharapkan terjadi perubahan sikap masyarakat, dari yang sebelumnya menjauhi dan mengucilkan, menjadi lebih peduli, empati, dan mendukung proses kesembuhan penderita.
RSUD Majene menilai, keberhasilan penanggulangan kusta tidak dapat dicapai hanya melalui pendekatan medis semata. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang ramah dan bebas diskriminasi.
Peringatan Hari Kusta Sedunia 2026 diharapkan menjadi pengingat bersama bahwa perjuangan melawan kusta adalah perjuangan kemanusiaan. Dengan pengetahuan yang benar dan kepedulian kolektif, penderita kusta dapat hidup sehat, bermartabat, dan terbebas dari stigma.














