Upacara Hardiknas 2026 di Unsulbar, Rektor Tekankan Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu

  • Bagikan

Majene – Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 pada Sabtu pagi, 2 Mei 2026. Upacara yang berlangsung di lingkungan kampus Unsulbar itu berjalan khidmat, penuh semangat nasionalisme, sekaligus kental dengan nuansa kebhinekaan.

google.com, pub-7941799445187426, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sejak pagi, suasana kampus tampak berbeda dari biasanya. Seluruh peserta upacara, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Ragam busana tradisional yang dikenakan peserta menjadi simbol nyata keberagaman yang menyatu dalam satu semangat kebangsaan.

Bertindak sebagai pembina upacara, Rektor Unsulbar Prof. Dr. Muhammad Abdy, M.Si, menyampaikan amanat Hardiknas dengan tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Dalam pidatonya, Rektor menekankan bahwa peringatan Hardiknas tidak seharusnya dimaknai sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum refleksi dan penguatan komitmen bersama untuk memajukan pendidikan nasional.

“Peringatan Hari Pendidikan Nasional bukanlah sekadar seremonial tahunan yang ditandai dengan upacara bendera dan berbagai ragam lomba. Hari Pendidikan Nasional merupakan momentum untuk kita meneguhkan dan meningkatkan dedikasi, komitmen, dan semangat untuk memenuhi amanat konstitusi yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan layanan pendidikan yang terbaik, bermutu, dan berkemajuan bagi seluruh anak bangsa,” ujar Rektor dalam amanatnya.

Lebih lanjut, Prof. Abdy mengingatkan bahwa dasar konstitusi negara telah memberikan jaminan kuat terkait hak pendidikan bagi seluruh warga negara. Ia merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, serta kewajiban negara untuk menyelenggarakan sistem pendidikan nasional.

Selain itu, Rektor juga menegaskan bahwa hak memperoleh pendidikan yang bermutu telah diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mengatur bahwa pendidikan harus diberikan secara adil dan tidak diskriminatif.

“Tidak boleh ada diskriminasi atas dasar agama, fisik, suku, bahasa, ekonomi, jenis kelamin, domisili, maupun sebab lainnya. Pendidikan adalah hak asasi yang melekat pada setiap insan,” tegasnya.

Dalam pidato tersebut, Rektor Unsulbar juga mengulas hakikat pendidikan sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia, moralitas, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.

Ia menyampaikan bahwa pendidikan adalah proses panjang yang membentuk manusia menjadi pribadi yang berpengetahuan, beradab, serta memiliki kemampuan untuk berkontribusi bagi masyarakat. Secara individu, pendidikan menjadi jalan untuk mengembangkan potensi diri, sementara secara kolektif pendidikan menjadi pilar utama dalam membangun peradaban bangsa yang maju.

Rektor juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam mendorong mobilitas sosial. Pendidikan, kata dia, bukan hanya ruang belajar formal, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk mengangkat derajat masyarakat dan memutus mata rantai kemiskinan yang masih menjadi tantangan besar di berbagai wilayah Indonesia.

“Melalui pendidikan, kita dapat memutus mata rantai kemiskinan dan menciptakan generasi yang unggul serta berdaya saing,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Prof. Abdy menyinggung komitmen pemerintah pusat yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan nasional. Ia menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia harus menjadi agenda bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, tema “Partisipasi Semesta” mencerminkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau perguruan tinggi, melainkan juga memerlukan keterlibatan keluarga, masyarakat, dunia usaha, media, hingga pemerintah daerah.

Upacara Hardiknas di Unsulbar pun menjadi gambaran nyata semangat kolektif tersebut. Kehadiran sivitas akademika dari berbagai unsur menunjukkan bahwa pendidikan adalah gerakan bersama yang harus dijaga dan diperjuangkan secara berkelanjutan.

Di akhir amanatnya, Rektor Unsulbar mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga semangat belajar, bekerja, serta berinovasi demi menciptakan pendidikan tinggi yang semakin berkualitas, relevan dengan kebutuhan zaman, dan mampu melahirkan generasi unggul untuk Sulawesi Barat dan Indonesia.

Penggunaan pakaian adat dalam upacara itu menjadi penegasan bahwa Unsulbar tidak hanya membangun pendidikan berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga menjunjung tinggi nilai budaya, persatuan, dan identitas kebangsaan. Momentum Hardiknas 2026 pun menjadi pengingat kuat bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan pendidikan bermutu adalah cita-cita bersama yang harus diwujudkan dengan partisipasi seluruh elemen bangsa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *