MAJENE – Tumpukan karung berisi sampah bekas pembersihan selokan di dekat kawasan Taman Kota Majene, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dikeluhkan warga. Pasalnya, sampah tersebut telah menumpuk selama lima hari tanpa diangkut oleh petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Majene.
Keluhan itu disampaikan Nurdiah, warga Lingkungan Pangaliali, Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae. Ia mengaku terganggu dengan kondisi sampah yang dibiarkan menumpuk di sekitar kawasan publik tersebut hingga menimbulkan bau menyengat.
Menurutnya, sampah yang berasal dari kegiatan pembersihan selokan seharusnya segera diangkut setelah proses pembersihan selesai. Jika dibiarkan selama berhari-hari, sampah tersebut justru berpotensi menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat di sekitarnya.
“Sudah lima hari sampah itu menumpuk, tetapi sampai sekarang belum juga diangkut. Baunya menyengat dan tentu mengganggu warga,” demikian keluhan yang disampaikan Nurdiah terkait kondisi tersebut, Kamis 15 Oktober 2026.
Tumpukan karung sampah itu menjadi perhatian warga karena berada di dekat kawasan taman kota yang semestinya terjaga kebersihan dan keindahannya. Kawasan tersebut bukan hanya menjadi ruang publik bagi masyarakat, tetapi juga bagian dari wajah perkotaan yang mencerminkan kualitas penataan lingkungan di Kabupaten Majene.
Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan mengenai tindak lanjut petugas kebersihan setelah melakukan pembersihan drainase. Sebab, kegiatan membersihkan selokan semestinya tidak berhenti pada pengangkatan sampah dari saluran air, tetapi juga harus disertai pengangkutan sampah agar tidak kembali menjadi sumber pencemaran di lingkungan sekitar.
Jika sampah hasil pembersihan hanya dikumpulkan dalam karung lalu dibiarkan berhari-hari, tujuan menjaga kebersihan lingkungan dikhawatirkan tidak tercapai secara maksimal. Bahkan, tumpukan sampah yang tidak segera ditangani dapat mengurangi kenyamanan masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Persoalan ini juga menjadi sorotan di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Majene memantapkan persiapan menghadapi penilaian Adipura Tahun 2026. Program penghargaan di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup tersebut menjadi salah satu target yang ingin dicapai pemerintah daerah.
Pemkab Majene sebelumnya telah menggelar rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mematangkan strategi menghadapi penilaian Adipura. Koordinasi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi seluruh perangkat daerah dalam menjaga kebersihan, menata kawasan perkotaan, serta meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan.
Namun, upaya tersebut dinilai perlu dibarengi dengan pelaksanaan yang konsisten di lapangan. Sebab, keberhasilan menjaga kebersihan kota tidak cukup hanya melalui rapat koordinasi, penyusunan strategi, maupun kegiatan seremonial, melainkan harus dibuktikan melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sejumlah kawasan yang menjadi perhatian dalam penataan perkotaan, seperti drainase, taman kota, Tugu Assamalewuang, Pasar Sentral Majene, hingga kawasan publik lainnya, membutuhkan pemeliharaan secara rutin dan berkelanjutan.
Keberadaan sampah yang masih berserakan atau belum diangkut di sejumlah titik berpotensi menimbulkan kesan bahwa pelaksanaan program kebersihan belum berjalan optimal. Terlebih, kawasan-kawasan tersebut merupakan ruang publik yang membutuhkan perhatian khusus karena menjadi tempat masyarakat beraktivitas setiap hari.
Dalam konteks persiapan Adipura 2026, kebersihan kota seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab satu instansi. Diperlukan koordinasi yang efektif antara DLHK, perangkat daerah terkait, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta partisipasi masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara menyeluruh.
Meski demikian, persoalan tumpukan karung sampah di dekat Taman Kota Majene menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera ditindaklanjuti oleh DLHK. Pengangkutan sampah yang telah terkumpul merupakan bagian penting dari rangkaian pelayanan kebersihan, bukan sekadar pekerjaan tambahan setelah kegiatan pembersihan selokan selesai.
Warga berharap pemerintah daerah segera merespons keluhan tersebut dengan menginstruksikan petugas terkait untuk mengangkut sampah yang telah menumpuk selama lima hari itu. Selain menghilangkan bau menyengat, langkah tersebut juga diperlukan untuk mengembalikan kenyamanan lingkungan dan mencegah munculnya keluhan serupa.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa target meraih Adipura tidak hanya diukur dari kesiapan administrasi dan intensitas koordinasi antar-OPD, tetapi juga dari konsistensi pelayanan kebersihan di lapangan.
Kini, perhatian tertuju pada tindak lanjut DLHK Majene dalam menangani tumpukan sampah tersebut. Respons cepat terhadap keluhan warga diharapkan menjadi bukti bahwa komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan kota yang bersih, tertata, dan nyaman benar-benar diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari pihak DLHK Kabupaten Majene mengenai penyebab belum diangkutnya tumpukan karung sampah tersebut maupun jadwal pengangkutannya.













