PASANGKAYU – Di sudut terpencil Dusun Poenje, Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, berdiri sebuah bangunan sederhana berdinding papan.
Di dalamnya, tak lebih dari 10 orang anak duduk di bangku kayu seadanya, menyimak pelajaran yang diajarkan oleh para pemuda relawan.
Sekolah sederhana itu bukan bangunan resmi milik pemerintah.
Ia lahir dari rasa kepedulian sekelompok anak muda yang tak tega melihat anak-anak di dusun itu terpaksa berhenti sekolah hanya karena terisolasi.
Adalah Anfal, pemuda penggerak inisiatif ini, bersama teman-temannya.
Saat dikonfirmasi, Jumat (20/6/2025), Anfal mengisahkan alasan mereka mendirikan sekolah tersebut.
“Kami prihatin, di sini banyak anak-anak yang berhenti sekolah. Jarak ke sekolah formal terlalu jauh. Untuk ke jalan poros saja, harus berjalan sekitar 6 kilometer, melewati jalan rusak, berbatu, dan bergelombang. Kalau hujan, makin susah,” ujar Anfal.
Tak ingin masa depan anak-anak di Dusun Poenje terkubur dalam keterpencilan, Anfal dan kawan-kawannya pun berinisiatif membangun sendiri sekolah itu, dengan bahan-bahan seadanya.
Kayu dan papan dikumpulkan dari swadaya warga, kemudian disusun menjadi sebuah ruang belajar sederhana.
Meski serba terbatas, semangat belajar anak-anak di sana tak kalah dengan yang lain.
Setiap pagi, mereka berjalan kaki melintasi jalan setapak demi mengikuti pelajaran yang diberikan para relawan.
“Alhamdulillah, sudah pernah ditinjau oleh Dinas Pendidikan Pasangkayu. Kami juga dapat bantuan buku dari mereka,” kata Anfal.
Namun, kebutuhan lain masih sangat banyak. Meja, kursi, alat tulis, bahkan perlengkapan mengajar masih sangat minim.
Para relawan berharap perhatian lebih dari pihak terkait agar sekolah darurat ini bisa lebih layak.
Di tengah keterbatasan, sekolah kecil di Poenje adalah simbol harapan.
Harapan bahwa di pelosok mana pun, setiap anak berhak untuk bermimpi dan berhak mendapatkan pendidikan yang layak.














