Utang RSUD Majene Turun dari Rp17 Miliar Jadi Rp3 Miliar, Direktur dr. Yupi Target Lunas Awal 2026

  • Bagikan

MAJENE – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Majene mulai menunjukkan perbaikan signifikan dalam pengelolaan keuangannya. Setelah sempat menanggung utang obat hingga Rp17 miliar pada pertengahan tahun 2024, kini angka tersebut berhasil ditekan drastis hingga sekitar Rp3 miliar atau telah terbayar sebesar Rp14 miliar.

google.com, pub-7941799445187426, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Informasi ini disampaikan langsung oleh Direktur RSUD Majene, dr. Yupie Handayani, pada Selasa, 18 November 2025.

Menurut dr. Yupie, saat ini dirinya baru lima bulan menjabat kembali Direktur RSUD Majene. Capaian ini tidak terlepas dari berbagai langkah penataan internal, mulai dari pengendalian pembelian obat, pengelolaan klaim BPJS, hingga penataan kembali sistem administrasi keuangan. Ia menegaskan bahwa kondisi yang sebelumnya sempat sangat memprihatinkan sebelum dirinya ditunjuk jadi Direktur RSUD Majene, kini sudah jauh lebih sehat dan lebih terarah.

Ia menjelaskan bahwa utang menumpuk tersebut merupakan imbas dari beban operasional besar sebelum dirinya kembali menjabat Direktur RSUD Majene. “Alhamdulillah sekarang kondisinya jauh lebih baik. Kita sudah punya rencana anggaran yang lebih stabil dan sistem kontrol yang lebih ketat. Utang tersisa tinggal sekitar Rp3 miliar, sebab kita sudah bayar Rp14 miliar,” ujarnya.

Tidak hanya itu, dr. Yupie juga menargetkan bahwa pada awal tahun 2026, seluruh utang tersebut dapat dilunasi. Ia optimistis bahwa dengan disiplin manajemen keuangan dan dukungan Pemkab Majene, RSUD dapat keluar sepenuhnya dari tekanan finansial yang selama ini membayangi.

Meski demikian, Yupie meminta masyarakat agar tetap bersabar jika masih menemukan sejumlah pelayanan yang belum sepenuhnya ideal. Menurutnya, sebagian layanan masih dalam proses penyesuaian seiring pemulihan keuangan yang sedang berlangsung. “Kami masih terus berupaya menormalkan kondisi. Jika ada yang belum memuaskan, mohon dimaklumi, kami sedang bekerja keras memperbaikinya,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa proses transformasi layanan di RSUD Majene tidak hanya menyangkut soal keuangan. Tahun ini, pihak manajemen juga tengah melakukan pembangunan besar-besaran untuk memperluas dan menambah fasilitas ruang perawatan baru. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan dan menjawab kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.

Beberapa fasilitas yang tengah dikerjakan antara lain ruang rawat inap tambahan, ruang tindakan, serta pembenahan instalasi penunjang. Proyek pembangunan tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025, sehingga dapat segera dimanfaatkan pada awal tahun berikutnya.

Yupie menilai pembangunan ini sebagai momentum penting bagi RSUD Majene untuk kembali bangkit setelah menghadapi masa-masa sulit. Menurutnya, peningkatan fasilitas ini akan berdampak positif terhadap kenyamanan pasien, efisiensi pelayanan, serta peningkatan kapasitas rumah sakit dalam menangani berbagai kasus kesehatan.

Ia juga memastikan bahwa proses pembangunan dilakukan dengan pengawasan ketat untuk menjaga kualitas hasil pekerjaan serta memastikan penggunaan anggaran pembangunan berjalan sesuai ketentuan. “Kami ingin hasilnya benar-benar maksimal. RSUD Majene harus menjadi rumah sakit yang bisa dibanggakan, bukan hanya oleh pemerintah daerah, tapi juga masyarakat,” tambahnya.

Selain pembangunan fisik, manajemen juga mulai menerapkan sejumlah pembaruan dalam tata kelola layanan, seperti digitalisasi sistem administrasi, peningkatan efisiensi distribusi obat, serta penataan ulang alur pelayanan pasien. Pembaruan ini diharapkan dapat menekan biaya operasional sekaligus mempercepat pelayanan.

Meskipun masih menyisakan sejumlah tantangan, kepastian berkurangnya utang dari Rp17 miliar ke Rp3 miliar menjadi angin segar bagi seluruh tenaga kesehatan di RSUD Majene. Banyak di antara mereka sebelumnya mengaku khawatir terhadap keberlanjutan rumah sakit akibat tekanan finansial yang berat.

Pemerintah Kabupaten Majene juga dikabarkan terus memberikan dukungan, baik dalam bentuk kebijakan maupun penguatan anggaran, agar RSUD Majene dapat kembali beroperasi optimal. Dukungan ini menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan keuangan rumah sakit.

Dengan berbagai perbaikan yang dilakukan, dr. Yupie berharap bahwa RSUD Majene dapat memasuki tahun 2026 dengan kondisi yang jauh lebih stabil, profesional, dan siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. “Kami ingin RSUD Majene benar-benar hadir sebagai rumah sakit yang andal dan dipercaya. Insya Allah, 2026 akan menjadi tahun kebangkitan,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *