MAJENE — Suasana Kecamatan Ulumanda hari ini berbeda dari biasanya. Setelah beberapa hari terakhir menjadi sorotan akibat gelombang aksi demonstrasi dari Aliansi Masyarakat Ulumanda, akhirnya Wakil Bupati Majene, Dr. Andi Ritamariani Basharoe, hadir langsung di wilayah yang berada di pelosok pegunungan tersebut.
Kedatangan ini menjadi respons atas desakan publik menyusul pernyataannya yang menyebut bahwa ASN yang bermasalah akan dipindahkan ke Ulumanda, sebuah pernyataan yang dianggap menyakitkan dan mendiskreditkan nama baik daerah.
Dalam pertemuan terbuka yang digelar di Balai Desa Salutambung, di hadapan tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, dan mahasiswa, Wakil Bupati secara terbuka menyampaikan permohonan maaf. Ia mengakui pernyataannya itu sebagai sebuah kekeliruan dalam komunikasi publik dan secara resmi menarik ucapan tersebut.
“Saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang saya sampaikan telah menyinggung perasaan masyarakat Ulumanda. Untuk itu, dengan tulus hati saya meminta maaf. Tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan Ulumanda. Pernyataan itu lahir dari konteks internal yang tidak seharusnya dibawa ke ranah publik,” ujar Wakil Bupati di hadapan peserta pertemuan, Rabu 23 Juli 2025.
Permintaan maaf tersebut disambut dengan tepuk tangan, namun juga dengan nada kritis dari masyarakat yang telah lama merasa terabaikan dalam arus pembangunan. Aliansi Masyarakat Ulumanda dan Solidaritas Perjuangan Mahasiswa Ulumanda mengingatkan agar permohonan maaf ini tidak berhenti pada tataran simbolik, melainkan menjadi pijakan awal bagi komitmen nyata pemerintah daerah dalam memperbaiki ketimpangan pembangunan.
Momen pertemuan ini menjadi ajang penting untuk menyuarakan sejumlah tuntutan krusial masyarakat Ulumanda. Aspirasi yang paling mendesak disampaikan adalah soal kerusakan infrastruktur jalan yang selama bertahun-tahun dibiarkan rusak parah, menyebabkan akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan terhambat. Warga juga menyoroti minimnya kehadiran layanan publik, mulai dari fasilitas pendidikan hingga pemerataan tenaga kesehatan.
“Kami menerima permohonan maaf Bu Wakil Bupati, tapi kami tidak ingin ini hanya jadi agenda pencitraan. Kami ingin kepastian, kapan jalanan kami dibenahi, kapan kami merasakan pelayanan yang sama seperti warga di kota?” tegas Ma’ruf, perwakilan mahasiswa Ulumanda.
Insiden ini mengungkap betapa rentannya komunikasi publik dari pejabat pemerintah, terutama dalam konteks daerah terpencil yang selama ini merasa termarjinalkan. Komentar Wakil Bupati, yang seolah menjadikan Ulumanda sebagai “daerah pembuangan” bagi ASN bermasalah, telah menyulut gelombang perlawanan moral dan solidaritas yang melampaui isu pribadi—menjadi simbol ketimpangan dan ketidakadilan pembangunan.
Namun di sisi lain, permintaan maaf secara terbuka menunjukkan langkah positif dalam pemulihan hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Diharapkan, dialog yang terbangun hari ini tidak menjadi seremonial kosong, melainkan membuka babak baru hubungan yang lebih setara, partisipatif, dan berkeadilan.
Aliansi Masyarakat Ulumanda dan Solidaritas Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal komitmen pemerintah, terutama pada program-program konkret di bidang pembangunan jalan, akses internet, fasilitas pendidikan, dan kesehatan.
“Kita tidak akan lupa bahwa daerah seperti Ulumanda punya hak yang sama atas pembangunan. Jangan lagi ada kata-kata atau kebijakan yang menempatkan kami di urutan belakang,” ucap Ma’ruf, yang juga merupakan tokoh pemuda setempat.
Kejadian ini seharusnya menjadi refleksi mendalam bagi seluruh aparatur Pemerintah Kabupaten Majene. Selain pentingnya menjaga sensitivitas dalam berkomunikasi, kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh bersifat eksklusif atau elitis. Ulumanda dan wilayah-wilayah lain yang selama ini kurang tersentuh, layak mendapatkan perhatian yang sama seperti wilayah perkotaan.
Harapan masyarakat kini jelas, bukan lagi janji, tetapi bukti. Masyarakat Ulumanda menunggu realisasi pembangunan yang merata sebagai bentuk nyata permintaan maaf dan sebagai langkah pemulihan martabat daerah mereka.














