MAJENE — Upaya menjaga kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk dunia akademik. Salah satu langkah nyata datang dari kalangan mahasiswa dan akademisi bidang perikanan yang mendorong pemanfaatan protein ikan sebagai sumber gizi utama dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Menjadikan Akuakultur sebagai Pilar Utama Kedaulatan Gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)” yang digelar Himpunan Mahasiswa Akuakultur Indonesia bersama Himpunan Mahasiswa Perikanan Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetkan) Universitas Sulawesi Barat.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus Unsulbar tersebut dihadiri mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya mahasiswa Unsulbar, seminar nasional itu juga diikuti peserta dari sejumlah perguruan tinggi luar Sulawesi Barat seperti Universitas Halu Oleo, Politani Pangkep, Universitas Mulawarman, hingga Universitas Mataram.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah, hingga legislatif. Pada sesi pertama, materi disampaikan Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar, Boyun Handoyo serta Koordinator Regional SPPI & SPPG Sulbar, Firazh Ahmadillah.
Sementara pada sesi kedua, tampil sebagai pemateri Rektor Universitas Sulawesi Barat, Muhammad Abdy dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Ajbar.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Plt Wakil Rektor III Unsulbar, Jamil Barambangi serta Dekan Fapetkan Unsulbar, St. Nurani.
Panitia seminar menyebutkan, kegiatan itu bertujuan mengupas peran strategis akuakultur dalam menyediakan sumber protein berkualitas tinggi yang berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat. Konsep tersebut dinilai sangat relevan dengan implementasi Program MBG yang saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.
Dalam pemaparannya, Dr. Jamil Barambangi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat posisi akuakultur sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.
“Penting kolaborasi lintas sektor antara akademisi, pemerintah, dan praktisi untuk memperkuat akuakultur sebagai fondasi ketahanan pangan dan gizi nasional,” ujarnya.
Akuakultur sendiri merupakan teknik budidaya perairan yang mencakup pemeliharaan, pembiakan, hingga pemanenan berbagai organisme air seperti ikan, udang, kerang, maupun rumput laut dalam lingkungan terkontrol, baik di perairan tawar, payau, maupun laut.
Bidang ini dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pangan global sekaligus menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir dan daerah berbasis kelautan.
Rektor Unsulbar, Prof. Muhammad Abdy, dalam kesempatan tersebut mengajak seluruh civitas akademika untuk terus membuka ruang kolaborasi di berbagai sektor, khususnya bidang perikanan dan peternakan yang dinilai memiliki potensi besar di Sulawesi Barat.
“Kita mengapresiasi kegiatan seminar nasional ini. Kita berharap dapat lebih mengembangkan keilmuan bidang perikanan dan tentunya juga dapat mengembangkan program studi,” kata Prof. Abdy.
Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki sumber daya kelautan dan perikanan yang melimpah sehingga perlu didukung melalui penguatan riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten.
Sementara itu, Dekan Fapetkan Unsulbar, Prof. St. Nurani, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat mahasiswa yang terus aktif menggelar kegiatan akademik berskala nasional.
Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam seminar dan kompetisi nasional menjadi indikator penting berkembangnya kualitas akademik dan daya saing kampus.
“Mahasiswa harus terus diberi ruang untuk berkembang, berkompetisi, dan membangun jejaring akademik di tingkat nasional,” ungkapnya.
Seminar nasional tersebut juga menjadi momentum memperkuat kesadaran bahwa sektor perikanan bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga bagian penting dari strategi pembangunan gizi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan protein masyarakat, ikan dinilai menjadi salah satu sumber pangan yang kaya nutrisi, mudah diakses, dan sesuai dengan karakter wilayah maritim seperti Sulawesi Barat.
Melalui forum itu, kalangan akademisi berharap sektor akuakultur dapat menjadi salah satu penopang utama keberhasilan Program MBG, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis kelautan yang lebih luas di masa mendatang.













