Harga Barang dan Jasa di Sulbar Terus Naik, Inflasi Sentuh 1,99 Persen

  • Bagikan

MAMUJU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di Sulawesi Barat pada Mei 2026 mencapai 1,99 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,01. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data yang dirilis BPS pada 2 Juni 2026 memperlihatkan bahwa inflasi di Sulawesi Barat masih berada dalam rentang yang relatif terkendali. Namun demikian, sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat tetap memberikan tekanan terhadap harga sehingga memengaruhi daya beli rumah tangga.

Dalam rilis resmi tersebut, BPS mencatat Kabupaten Mamuju menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Sulawesi Barat, yakni sebesar 2,13 persen dengan IHK 110,91. Sementara itu, Kabupaten Majene mencatat inflasi terendah sebesar 1,91 persen dengan IHK 111,08.

Perbedaan tingkat inflasi antarwilayah tersebut menunjukkan adanya variasi dinamika harga komoditas di masing-masing daerah. Faktor distribusi barang, ketersediaan pasokan, hingga pola konsumsi masyarakat menjadi beberapa aspek yang memengaruhi pergerakan harga di tingkat kabupaten.

Selain mencatat inflasi tahunan, BPS juga melaporkan inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) Sulawesi Barat pada Mei 2026 sebesar 0,11 persen. Angka ini menunjukkan bahwa dibandingkan April 2026, terjadi kenaikan harga rata-rata barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat sebesar 0,11 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d), yakni perbandingan harga sejak Januari hingga Mei 2026, tercatat sebesar 1,44 persen.

Kondisi tersebut menandakan bahwa selama lima bulan pertama tahun 2026, tren kenaikan harga masih berlangsung meskipun tidak mengalami lonjakan yang signifikan. Stabilitas harga yang relatif terjaga menjadi indikator penting bagi perekonomian daerah, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan aktivitas ekonomi.

Sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Sulawesi Barat, Kabupaten Mamuju menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi pada Mei 2026. Inflasi sebesar 2,13 persen menunjukkan bahwa kenaikan harga di wilayah tersebut berada di atas rata-rata provinsi.

Pengamat ekonomi menilai tingginya inflasi di Mamuju tidak terlepas dari tingginya aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat. Sebagai daerah tujuan distribusi barang dari berbagai wilayah, perubahan harga komoditas strategis cenderung lebih cepat tercermin dalam pergerakan inflasi.

Selain itu, meningkatnya permintaan terhadap sejumlah kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan jasa lainnya juga dapat memberikan kontribusi terhadap laju inflasi daerah.

Di sisi lain, Kabupaten Majene mencatat inflasi tahunan sebesar 1,91 persen, menjadikannya daerah dengan inflasi terendah di Sulawesi Barat pada Mei 2026.

Meski lebih rendah dibandingkan Mamuju, angka tersebut tetap menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, laju kenaikannya relatif lebih terkendali.

Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh stabilitas pasokan barang kebutuhan pokok, tingkat konsumsi masyarakat, hingga efektivitas distribusi komoditas yang masuk ke wilayah Majene.

Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kondisi perekonomian suatu daerah. Laju inflasi yang terlalu tinggi dapat menekan daya beli masyarakat karena harga barang dan jasa meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan. Sebaliknya, inflasi yang terkendali mencerminkan stabilitas ekonomi yang lebih baik.

Dengan tingkat inflasi tahunan sebesar 1,99 persen, Sulawesi Barat masih berada pada level yang relatif aman dan tidak menunjukkan gejolak harga yang berlebihan. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa dibayangi tekanan inflasi yang tinggi.

Meski demikian, pemerintah tetap perlu mewaspadai sejumlah faktor yang berpotensi memicu kenaikan harga pada bulan-bulan berikutnya. Di antaranya adalah perubahan cuaca yang dapat memengaruhi produksi pertanian, gangguan distribusi barang, fluktuasi harga energi, serta meningkatnya permintaan masyarakat pada periode tertentu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *