Pesan dr. Nur Afifah Thamrin di Hari Kanker Paru Sedunia: Deteksi Dini dan Gaya Hidup Sehat Kunci Menekan Risiko Kanker Paru

  • Bagikan

MAJENE – Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia yang diperingati setiap bulan Agustus menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kanker paru, penyakit yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Melalui momentum tersebut, dr. Nur Afifah Thamrin mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan paru-paru dengan menerapkan pola hidup sehat, menghindari faktor risiko, serta tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah pada kanker paru.

Menurut dr. Nur Afifah Thamrin, masih banyak masyarakat yang baru mengetahui dirinya menderita kanker paru ketika penyakit tersebut telah memasuki stadium lanjut. Padahal, apabila kanker paru dapat ditemukan sejak dini, peluang keberhasilan pengobatan akan jauh lebih besar.

“Hari Kanker Paru Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Namun, banyak kasus sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat dan deteksi dini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor risiko terbesar penyebab kanker paru adalah kebiasaan merokok. Tidak hanya perokok aktif, perokok pasif yang setiap hari menghirup asap rokok juga memiliki risiko yang tinggi mengalami gangguan kesehatan, termasuk kanker paru.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat yang masih merokok agar mulai berkomitmen menghentikan kebiasaan tersebut demi menjaga kesehatan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

“Berhenti merokok merupakan langkah paling efektif untuk menurunkan risiko kanker paru. Selain itu, kita juga harus menghindari paparan asap rokok karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perokok, tetapi juga anggota keluarga, terutama anak-anak dan lansia,” katanya.

Selain asap rokok, dr. Nur Afifah juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai paparan polusi udara dan berbagai zat berbahaya yang dapat memengaruhi kesehatan paru-paru.

Menurutnya, masyarakat yang bekerja di lingkungan dengan paparan debu, bahan kimia, maupun asap industri harus menggunakan alat pelindung diri sesuai standar keselamatan kerja. Sementara masyarakat umum juga perlu mengurangi aktivitas di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk apabila memungkinkan.

“Kita tidak bisa mengendalikan semua faktor lingkungan, tetapi kita dapat meminimalkan risikonya. Gunakan masker ketika kualitas udara buruk dan patuhi standar keselamatan kerja jika bekerja di lingkungan yang berisiko,” jelasnya.

Selain menghindari faktor risiko, dr. Nur Afifah menegaskan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan paru dan tubuh secara keseluruhan.

Ia menganjurkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, menjaga berat badan ideal, rutin beraktivitas fisik, serta beristirahat yang cukup.

“Pola hidup sehat bukan hanya membantu menjaga daya tahan tubuh, tetapi juga menurunkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk kanker,” tuturnya.

Lebih lanjut, dr. Nur Afifah mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh berbagai keluhan pada saluran pernapasan yang berlangsung dalam waktu lama.

Ia menyebutkan beberapa gejala yang patut diwaspadai, antara lain batuk yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari dua minggu, sesak napas, nyeri dada, maupun batuk yang disertai darah.

“Apabila mengalami batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, nyeri dada, atau batuk berdarah, jangan menunggu sampai kondisinya semakin berat. Segeralah memeriksakan diri ke dokter spesialis agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tegasnya.

Menurutnya, deteksi dini menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengobatan kanker paru. Semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh terapi yang efektif dan kualitas hidup yang lebih baik.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan apabila memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mencurigakan.

“Pemeriksaan sejak dini bukan berarti kita pasti menderita kanker, tetapi merupakan langkah bijak untuk mengetahui kondisi kesehatan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat bila memang diperlukan,” katanya.

Selain upaya pencegahan dan deteksi dini, dr. Nur Afifah juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memberikan dukungan moral kepada para penyintas kanker paru yang tengah menjalani pengobatan.

Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam meningkatkan semangat serta kualitas hidup pasien selama menjalani terapi.

“Kepedulian kita sangat berarti bagi para penyintas. Mari kita saling menguatkan, memberikan dukungan, serta mengajak keluarga dan orang-orang terdekat untuk lebih peduli terhadap kesehatan paru-paru,” ujarnya.

Ia berharap peringatan Hari Kanker Paru Sedunia tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan lebih peduli terhadap kesehatan pernapasan.

“Mari bersama meningkatkan kepedulian, mendukung para penyintas, dan mengajak keluarga serta orang-orang terdekat untuk menjaga kesehatan paru-paru. Paru sehat adalah investasi bagi masa depan yang lebih baik,” pesannya.

Menutup imbauannya, dr. Nur Afifah Thamrin mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Kanker Paru Sedunia sebagai titik awal untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan lebih peka terhadap gejala penyakit.

“Paru Sehat, Hidup Lebih Kuat. Bersama Cegah Kanker Paru!” menjadi pesan utama yang diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama menekan angka kejadian kanker paru melalui pencegahan, deteksi dini, dan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri maupun orang lain.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *