POLMAN — Rekonstruksi kasus pembunuhan sadis yang melibatkan seorang ayah dan anaknya di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menarik perhatian publik.
Puluhan warga memadati lokasi untuk menyaksikan proses rekonstruksi yang digelar di Jl. Jumhana, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, Senin (1/12/2025).
Polisi pun terpaksa memperketat penjagaan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Rekonstruksi menghadirkan langsung dua tersangka, yakni Ahmad (45) sebagai pelaku utama dan anaknya yang masih berusia 16 tahun berinisial AR. Keduanya memperagakan sebanyak 23 adegan yang menggambarkan kronologi pembunuhan terhadap korban bernama Septian Sani.
Adegan awal memperlihatkan Ahmad sedang membuang sampah di belakang rumah. Di saat bersamaan, korban datang dan menegur pelaku terkait masalah sepele yang memicu adu mulut panas. Penyidik menggantikan peran korban dalam rekonstruksi tersebut, menunjukkan bagaimana situasi sempat memanas hingga korban menantang duel.
Ketegangan berlanjut ketika AR ikut terlibat dan berdiri berhadap-hadapan dengan korban, memperlihatkan intensnya pertikaian yang terjadi sebelum insiden berdarah itu pecah.
Dalam adegan berikutnya, Ahmad masuk ke dalam rumah untuk mengambil parang, sementara AR mengambil celurit. Saat itu, korban sudah sempat meninggalkan lokasi, namun pelaku ternyata mengejarnya.
Ketika Ahmad kembali, ia mendapati korban sedang mengendarai sepeda motor di depan rumah. Perkelahian pun kembali tak terelakkan. Meski hanya berusaha melawan dengan tangan kosong, korban tak mampu menghindari tebasan parang yang mendarat di tubuhnya. Korban terjatuh, dan justru menjadi sasaran serangan lanjutan.
Pada adegan terakhir, AR ikut melakukan penyerangan dengan celurit. Adegan ke-20 hingga ke-23 memperlihatkan bagaimana korban dibacok berkali-kali hingga meninggal dunia di lokasi kejadian.
Rekonstruksi tersebut merupakan bagian dari proses penyidikan untuk memperkuat berkas perkara sebelum diserahkan ke kejaksaan. Polisi menyebut motif pembunuhan dipicu masalah pribadi yang berujung konflik fisik.
Hingga proses rekonstruksi selesai, suasana tetap dalam pengamanan ketat. Warga yang hadir tampak mengikuti setiap adegan dengan penuh perhatian dan sesekali menunjukkan ekspresi ngeri melihat kembali peristiwa tragis yang terjadi di lingkungan mereka.













